Langsung ke konten utama

Postingan

Cerpen : Dia Kembali (Part 1)

Kulirik jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 10.25. Peluh keringat mengucur di sekitar pelipis. Sudah sekitar 25 menit aku menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Padahal aku sedang terburu-buru ingin menghadiri sahabatku yang sidang hari ini. Sambil menyeka keringat aku tengok kiri dan kanan ternyata banyak orang yang bernasib sama sepertiku menunggu kereta yang tak kunjung datang. Petugas kereta mengumumkan bahwa kereta yang akan aku tuju sudah berangkat dari citayam. Baiklah tidak akan lama lagi berarti. Sibuk membaca whatsapp tiba-tiba pundak kiriku ada yang menepuk. Reflek aku menengok.  "Hai" kata pertama yang terucap dari orang yang menepuk barusan. "E-lo? lo naik krl juga?" Jawabku sedikit terkejut. "Gue emang setiap hari naik krl, tapi kok gue gak pernah ketemu lu ya?" Tanya dia heran. "Gue biasanya emang gak pernah naik dari stasiun ini tadi karena abang gojeknya salah jalan jadi nyari stasiun yang terdekat"  ...

Orang aneh

Waktu telah menunjukkan pergantian hari. Tapi kantuk tak kunjung hadir. Mencoba memejamkan mata tetap tak bisa. Kulirik jam didinding kamarku menunjukkan tepat pukul 03.00 dini hari. Kupejamkan mata sekali lagi cukup lama. Tapi yang terlintas wajah seseorang yang tadi siang aku temui. Aku buru-buru membuka mata. Huh orang aneh tadi siang masih menghantui pikiranku. Bagaimana tidak aneh, dia (orang aneh itu) tiba tiba datang menghampiri dan  menyapa bagaikan kita sudah berteman lama. Aneh bukan? Padahal aku tak mengenalnya. Memang aku pernah sekali melihatnya itupan tak sengaja karena berada disatu acara yang sama tapi aku tak mengenal siapa dia. Setelahnya dia pergi dan berkata semoga kita bisa ketemu lagi ya. Aku mendengarnya hanya diam tak merespon. Jakarta, 30 Juli 2019 | Salmah

Rintihan Hati : Berdoa

Gimana perasaannya sekarang sal? Kewarasan masih aman kan? Tau kok kamu lagi panik sekarang. Sekarang udah tanggal berapa tuh? Udah tau dong sudah mendekati deadline sidang? Sekarang skripsi kamu sudah sampai mana? Udah jangan khawatir sekarang yang terpenting dikerjain. Kejar terus. Apalagi sekarang waktu kamu sudah senggang. Udah enggak repot lagi bolak balik rumah sakit. Gak usah disesali ya sal, kamu berdoa saja semoga kebaikan kamu membantu saudaramu sendiri berbalas kebaikan. Mungkin beberapa kali kamu kesal melihat instastory teman-teman kamu sudah ada beberapa yang sidang. Sedangkan kamu, bukannya lembur ngerjain skripsian malah lembur jaga di rumah sakit. Bismillah sal Allah gak tidur, Allah bakal bantu kamu kok. Don’t panik oke. Sekarang yang kamu lakuin adalah ikhtiar ngerjain skripsian. Masih ada waktu kok. Tenangin diri kamu. Tau kamu lagi resah, perkara kuesioner direvisi terus. Udah gitu dospem kamu susah ditebak. Minta sana sama Allah. Allah yang menggemgam ...

PENOLAKAN

Aku sudah tau jawabanmu akan seperti apa Tapi aku berusaha menyingkirkan egoku demi membahagiakan orang-orang yang kusayang Keraguanku muncul untuk memberikan pertanyaan itu. Karena aku bisa menabak seperti apa jawabanmu. Aku mencoba mengulur waktu memantapkan hati. Kurasa sudah tidak ada waktu lagi jika masih menunggu waktu yang tepat. Aku mantapkan dengan membaca bismillah. Aku menanyakan perihal tersebut dengan to the point. Aku tak suka berbasi basi terlebih aku sudah bisa menebak jawabanmu. Dan terjawab sudah jawabanmu sesuai dengan apa yang kuduga. Bukannya aku pesimis tapi aku sudah lelah dengan asumsi dan berharap jawabanmu akan membuatku senang. Aku sudah sangat mengenalimu. Apa aku kecewa? Jawabannya tidak. Aku beritahu, penolakan darimu adalah sudah hal biasa. Bukannya hanya kali ini saja tapi sebelumnya sudah pernah. Maka aku sudah melewati proses penerimaan itu dari lama. Tidak mudah memang tapi berjalannya waktu dan sesering itu kamu menolak per...

Pertemuan pertama

Awal mengenalmu kita berada satu team untuk suatu acara. Hanya kita berdua diutus menghadiri rapat tersebut. Aku sama sekali tidak tau sosokmu yang mana. Bermodal nomor handphone aku menghubungimu. Setelah bertanya lewat chating kita sepakat untuk bertemu ditempat. Sampai rapat mulai aku belum tau sosokmu yang mana diantara orang-orang didalam ruangan ini. Aku menghubungimu menanyakan kamu dimana?? Dikejauhan seseorang mendekatiku. Aku berfikir apa itu kamu? " Salmah ?" Ujarmu " Iyaa " jawab aku " Kenalin gue .... " Ah memori itu masih saja terus hadir. Jakarta, 17 April 2019 | Salmah

Ego

Sampai saat ini ada satu hal yang belum mampu kupahami. Sudut pandangmu dalam sebuah pertemanan. Sampai saat ini kita belum sefrekuensi dalam hal itu. Aku yang terkesan cuek dan acuh, Kamu yang terlalu ingin tahu. Mungkin jika kita mau mengalah dan mengesampingkan ego masing-masing bisa berakhir dengan penerimaan. Nyatanya aku yang saat ini masih cuek yang tak mau memperdulikan hal itu, Dan kamu yang sudah lelah dengan hal ini. Kamu mundur perlahan dengan pasti atas kerumitan pertemanan ini, Dan aku masih tampak tak peduli dengan tindakanmu yang perlahan mundur. Jakarta, 04 April 2019 | Salmah

SLIMPS

Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan kalian dan sampai saat ini masih bersama. Menyatukan enam kepala bukan hal yang mudah. Karakter dan sifat yang berbeda-beda menjadi sebuah tantangan. Menjadi hal mudah bila masing-masing dari kita menerima segala sifat dan karakter yang kita miliki. Tetapi mewujudkan hal itu perlu proses waktu yang panjang. Seiring berjalannya waktu, proses penerimaan itu pelan-pelan terbuka. Proses penerimaan ini juga menjadi jejak pendewasaan kita. Walaupun begitu bukan berarti kita selalu baik-baik saja. Dalam proses penerimaan ini sering terjadi pertengkaran dan kesalahpahaman. Itu hal yang wajar-wajar saja. Sampai saat ini pun kita masih belajar untuk terus menikmati proses penerimaan itu. Teruntuk kalian yang selalu kuselipkan didalam doaku, Tetap selalu bersama sampai anak-anak kita kelak akan bersahabatan juga seperti kita. Penuh rasa syukur❤ Jakarta, 28 Maret 2019 | Salmah