Langsung ke konten utama

Cerpen : Dia Kembali (Part 1)

Kulirik jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul 10.25. Peluh keringat mengucur di sekitar pelipis. Sudah sekitar 25 menit aku menunggu kereta yang tak kunjung tiba. Padahal aku sedang terburu-buru ingin menghadiri sahabatku yang sidang hari ini. Sambil menyeka keringat aku tengok kiri dan kanan ternyata banyak orang yang bernasib sama sepertiku menunggu kereta yang tak kunjung datang.

Petugas kereta mengumumkan bahwa kereta yang akan aku tuju sudah berangkat dari citayam. Baiklah tidak akan lama lagi berarti. Sibuk membaca whatsapp tiba-tiba pundak kiriku ada yang menepuk. Reflek aku menengok. 
"Hai" kata pertama yang terucap dari orang yang menepuk barusan.
"E-lo? lo naik krl juga?" Jawabku sedikit terkejut.
"Gue emang setiap hari naik krl, tapi kok gue gak pernah ketemu lu ya?" Tanya dia heran.
"Gue biasanya emang gak pernah naik dari stasiun ini tadi karena abang gojeknya salah jalan jadi nyari stasiun yang terdekat" 
"Ohhh pantesan gue enggak pernah liat atau berpapasan sama lu di stasiun sini".
"Jarang banget sih gue naik dari stasiun ini bisa dihitung jari. Lagian juga yang naik krl kan bukan satu atau dua orang tapi banyaaak hehehe."
"Hehehe iyak juga si mungkin sekarang semesta sedang berkonspirasi mempertemukan kita".
Aku pura-pura tak mendengarkan ucapan dia yang terakhir. Aku sedang menata hatiku yang bergemuruh karena kejutan barusan. Bertemu dia yang sudah lama sekali tidak bertemu. Aku sangat tidak menyangka bisa bertemu dengan dia disini. Yang awalnya aku kesal karena abang gojek yang aku tumpangi salah jalan membuat aku harus turun di stasiun yang berbeda dari biasanya. Tapi berkat abang gojek itu juga aku bisa bertemu dia kembali.

Tak lama suara pengumuman  terdengar memberitahukan kereta akan tiba. 
"Ayoo .." ajakmu.
"Belum datang juga keretanya"
"Lu gak liat banyak orang noh, ayoo siap-siap berebutan masuk".
"Hmmmm ..." 
"Tengilnya masih sama" ucapku dalam hati. 

Tak lama dari kejauhan kereta mulai terlihat dan aku bergegas mengikuti dia.




Bersambung .... 

Jakarta, 30 Juli 2019 | Salmah






*cerita ini hanyalah fiktif belaka

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel : Catatan Hati di Setiap Doaku

Judul : Catatan Hati di Setiap Doaku Penulis : Asma Nadia, dkk Hal : 253 Halaman Doa adalah titik embun yang menjelma cahaya  manakala mimpimu gulita atau harapan tak menemukan jalannya (Asma Nadia) #Review Novel asma nadia memang tidak diragukan lagi. Karya karya nya mampu membuat para pembacanya ikut merasakan kejadian ditiap tiap kisahnya. Novel catatan hati di setiap doaku ini membuat gue teringat kembali betapa dahsyatnya kekuatan doa itu. Awal membaca cerita ini sudah membuat gue nangis merasa pilu. Paling berkesan yang menceritakan seorang istri yang masih tetap bertahan walaupun sang suami berselingkuh. Ujian dan cobaan berdatangan tapi si istri ini tetap bertahan dan berhusnudzon sama Allah. Tetap berdoa sama Allah agar suaminya suatu saat bisa bertaubat. Pihak keluarganya sudah meminta kepada si istri ini untuk ke orang pintar karena menurut keluarga mereka si suami sudah kena guna guna perempuan penggoda itu. Si istri ini tidak mau terpengaruh akan hal hal se...

REVIEW NOVEL Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok

REVIEW NOVEL Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok ... Judul               : Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok Penulis             : Muhammad Lili Nur Aulia Hal                  : 253 Halaman Penerbit           : Ihsanmedia.com             Atas dasar karunia Allah, lalu kebersamaan ini pun kita mulai karena Allah dan untuk Allah. Tidak ada yang lebih mulia daripada menyadari bahwa kebersamaan ini adalah murni karena karunia dan hidayah Allah. Tak ada yang lebih agung daripada menyadari bahwa kita memulai perjalanan ini betul-betul karena Allah dan bertujuan untuk menggapai ridha Allah.    ...

Pengalaman Dirawat di Rumah Sakit

Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 14 Januari 2019 gue baru aja dirawat di rumah sakit. Diagnosis dokter itu sakit typus. Gue dirawat selama lima hari. Berawal dari gue kedinginan hebat. Bener-bener merasa dingin terus tiba-tiba gue kaya orang kesurupan gitu. Posisi pada saat itu gue sadar, tapi gue enggak bisa berbuat apa-apa. Seperti ada yang mengendalikan diri gue. Emak gue meminta untuk gue baca ayat kursi tapi gue menjawabnya enggak tau. Kejadian kaya gini bukan pertama kali, sebelumnya gue pernah seperti kaya orang kesurupan juga pada saat mengikuti pelatihan sholat khusyu. Waktu pada saat ikutan upgrading PAY gue juga sempat seperti itu juga tapi tidak parah. Setelah kejadian itu demam gue enggak turun-turun selalu 39 ° C. Sudah dibawa ke rumah sakit juga sampai diinfus tapi demamnya tidak turun-turun. Lima hari deman tidak kunjung akhirnya gue dibawa ke puskesmas untuk cek darah, hasilnya trombosit gue malah lebih turun dibanding pas di rumah sakit itu. Ak...