REVIEW
NOVEL Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok ...
Judul : Kita Akan Tetap di Jalan Ini
Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok
Penulis : Muhammad Lili Nur Aulia
Hal : 253 Halaman
Penerbit : Ihsanmedia.com
Atas dasar karunia Allah, lalu kebersamaan ini pun kita
mulai karena Allah dan untuk Allah. Tidak ada yang lebih mulia daripada
menyadari bahwa kebersamaan ini adalah murni karena karunia dan hidayah Allah.
Tak ada yang lebih agung daripada menyadari bahwa kita memulai perjalanan ini
betul-betul karena Allah dan bertujuan untuk menggapai ridha Allah.
Hari – hari ini, kita menjalani proses memelihara,
merawat, menjaga, hidayah dan karunia Allah itu. Sebuah amal bersama yang telah
kita mulai itu, semoga bisa tetap terjaga hingga kita ada di ujung tujuan yang
kita harapkan yaitu kematian husnul khotimah. Kematian yang ada di titik ridha
Allah yang bernilai kebaikan bagi perjuangan.
Di atas merupakan sepenggal sinopsis dari buku yang
berjudul “Kita Akan Tetap di Jalan Ini
Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok”. Ketika gue membaca buku ini dibuat
kesal karena semua tulisan didalam buku ini semuanya benar dan tidak ada yang
bisa gue bantah. Tulisan pengantar dari ustadz amang Syafruddin, Lc sudah
membuat gue berderai air mata. Pengantarnya tersebut menceritakan tentang jaga
dan pelihara kebersamaan ini. Dimana pada saat itu rasulullah menanyakan
sahabatnya, merasa kehilangan sahabatnya, mencari mereka, jika mereka tidak
didapati oleh rasulullah, jika sahabatnya tidak ada, beliau doakan agar dalam
kondisi aman dan selamat. Jika sahabatnya sakit, ia berusaha untuk
menjenguknya. Hal ini yang membuat gue untuk merenung, betapa masih jauhnya gue
dalam hal menjaga memelihara kebersamaan ini terhadap saudara seiman kita.
Ketika sahabat perjuangan gue tidak dapat menghadiri syuro, gue belum sepeka
itu untuk menanyakan lebih lanjut, ada hal apa sehingga sahabat kita ini tidak
dapat menghadiri syuro. Ketika sahabat kita sakit belum ada inisiatif kita
untuk menjenguk sahabat kita langsung walaupun hanya sekedar sakit demam.
Padahal dari hal-hal seperti itu hati dan jiwa kita bisa kita satukan rasa dan
pikiran kita.
Banyak hal dijelaskan didalam buku ini menjelaskan
tentang perjalanan dakwah dari mulai tentang perjalanan dakwah rasulullah
sampai tantangan perjalanan dakwah kita di masa depan. Selain itu
nasihat-nasihat yang disampaikan didalam buku ini membuat gue untuk merenungi
kejadian selama hampir satu tahun ini menjadi badan pengurus harian ldk kampus.
Banyak hal yang bisa gue ambil benang merahnya dari setiap kejadian selama satu
tahun menjadi bph ldk kampus dengan tulisan dibuku ini. Gue berfikir kenapa gue baca buku ini baru sekarang
setelah udah lengser tapi walaupun demikian tidak harusnya menyesali yang
sudah lalu toh walaupun gue membaca buku ini sebelum menjadi bph belum tentu
gue akan menjalankan sesuai dengan apa yang diceritakan didalam buku tersebut.
Salah satu hal yang gue ambil benang merah dari
permasalahan yang gue hadapi selama menjadi bph ldk kampus dengan teori yang
gue baca dari buku ini yaitu tentang rasa cinta kita kepada Allah. Jadi
permasalahan yang tidak pernah usai dari ldk kampus gue adalah KOMUNIKASI.
Banyak yang merasa setiap permasalahan yang timbul misal proker tidak berjalan
dengan baik karena komunikasi antara ketua divisi dengan anggota tidak baik
atau banyak anak-anak ldk kampus yang muntaber (mundur tanpa berita) disebabkan
kakak tingkat yang belum bisa merangkul adik-adiknya, lagi lagi disebabkan
kakak tingkat ini belum menemukan metode komunikasi yang baik dengan adik
tingkatnya dan masih banyak contoh lain terkait permasalahan tentang
komunikasi. Terhambatnya komunikasi ini disebabkan karena rasa persaudaran atau
ukhuwah kita belum sempurna masih compang camping. Mungkin ada yang berfikir
bagaimana mungkin rasa persaudaraan itu hadir tanpa ada komunikasi yang baik?Right?. Rasa persaudaraan atau ukhuwah
itu hadir ketika kita semua satu tim ini, satu ldk ini memiliki rasa cinta kita
kepada Allah SWT. Tahap yang paling utama itu yang perlu ditanamkan adalah
cinta kepada Allah SWT. Sikap mahabbah atau sikap cinta kepada-Nya pernah
dituliskan oleh Imam Ibnu Taimiyah rahimahumullah, saat mendefinisikan ibadah
dengan ungkapan “ibadah yang
diperintahkan Allah mengandung makna dzill (kehinaan dan kerendahan) dan makna
mahabbah (kecintaan). Yang dikehendaki oleh Allah adalah klimaks sikap dzill
dan mahabbah kepadanya”.
Rasulullah juga menjelaskan dalam sebuah hadits bahwan
manisnya iman seseorang hamba tidak mungkin dirasakan kecuali dengan mencintai
Allah dan Rasul-Nya. Itulah dasarnya. Mencintai saudara seiman adalah juga
berpangkal pada kecintaan pada Allah SWT. Lalu yang dimaksud manisnya iman
dalam hadits ini adalah suasana kenikmatan, ketenangan, kelapangan, kesejukan,
jiwa yang muncul dalam diri seorang mukmin ketika ia melakukan hal-hal yang
disebutkan itu. Ketika kita sudah menikmati lezatnya manis iman maka kita akan
menikmati memiliki saudara seiman yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Hati
kita sudah saling terpaut karena memiliki rasa cinta yang sama pada Allah.
Ukhuwah itu akan beriringan ketika semua karena Allah.
Dengan latar belakang makna cinta seperti itulah, do’a
rabithah menyebutkan “kami berhimpun
dalam cinta kepada-Mu” itu karena kecintaan kita kepada Allah berbanding
lurus dengan perhimpunan kita dalam jalan ini, sesama saudara dalam keimanan.
Selanjutnya ungkapan “kami berpadu dalam
ketaatan kepada-Mu” berarti ketaatan
kita kepada Allah lah yang menyebabkan semakin terikat kuatnya perpaduan
hati-hati kita. Atau dengan kata lain kemaksiatan bisa merenggangkan ikatan dan
bahkan bisa melepaskan perpaduan kami. Lalu, ucapan “kami bersatu dalam dakwah atau seruan kepada-Mu”. Artinya
berdakwah menjadi syarat yang penting diperhitungkan dalam perannya
mempersatukan kita selaku umat islam. Amaliyah dakwah yang banyak akan kian
mempersatukan hati dan jiwa kita. Bila sedikit amaliyah dakwah yang dilakukan berarti
peluang hambatan pertautan hati dan jiwa akan semakin besar. Kemudian “kami saling berjanji untuk menolong
syariat-Mu”, adalah komitmen yang sangat penting untuk menjalin kebersamaan
dalam cinta, dalam ketaatan dalam dakwah, untuk mengikatkan janji setia demi
tegaknya syariat Allah.
“sesungguhnya
dalam hati terdapat sebuah robekan yang tidak mungkin dapat dijahit kecuali
dengan mengadap penuh kepada Allah.
Di
dalamnya juga ada sebuah keterasingan yang tak mampu diobati kecuali dengan
menyendiri bersama Allah
Di
dalam hati juga ada sebuah kesedihan yang yang tidak akan mampu diseka kecuali
dengan kebahagian yang tumbuh karena mengenal Allah dan ketulusan berinteraksi
dengan-Nya.
Di
dalam hati juga terdapat sebuah kegelisahan yang tidak mampu ditenangkan
kecuali dengan berhimpun kepada Allah dan pergi meninggalkan kegelisahan itu
menuju Allah.
Di
dalam hati juga terdapat gejolak api yang tidak mampu dipadamkan kecuali
keridhaan akan perintah, larangan, dan keputusan Allah yang diiringi dengan ketabahan
dan kesabaran sampai tiba saat perjumpaan dengan-Nya.”
-ibnu
qayyim rahimahullah dalam kitab madaarij as saalikiin-
Gue
kasih bintang empat
Jakarta, 22 November 2018 - Salmah
Nice review ❤️
BalasHapus