Langsung ke konten utama

Pengalaman Dirawat di Rumah Sakit





Beberapa hari yang lalu tepatnya tanggal 14 Januari 2019 gue baru aja dirawat di rumah sakit. Diagnosis dokter itu sakit typus. Gue dirawat selama lima hari. Berawal dari gue kedinginan hebat. Bener-bener merasa dingin terus tiba-tiba gue kaya orang kesurupan gitu. Posisi pada saat itu gue sadar, tapi gue enggak bisa berbuat apa-apa. Seperti ada yang mengendalikan diri gue. Emak gue meminta untuk gue baca ayat kursi tapi gue menjawabnya enggak tau. Kejadian kaya gini bukan pertama kali, sebelumnya gue pernah seperti kaya orang kesurupan juga pada saat mengikuti pelatihan sholat khusyu. Waktu pada saat ikutan upgrading PAY gue juga sempat seperti itu juga tapi tidak parah.

Setelah kejadian itu demam gue enggak turun-turun selalu 39°C. Sudah dibawa ke rumah sakit juga sampai diinfus tapi demamnya tidak turun-turun. Lima hari deman tidak kunjung akhirnya gue dibawa ke puskesmas untuk cek darah, hasilnya trombosit gue malah lebih turun dibanding pas di rumah sakit itu. Akhirnya gue dirujuk ke rumah sakit untuk dirawat.

Sampai di rumah sakit gue dibawa ke ruang IGD. Gue disuruh untuk periksa darah lagi padahal baru satu jam yang lalu gue periksa darah jadi suka tidak suka gue harus bertemu dengan jarum suntik lagi. Sekian tahun enggak bertemu dengan jarum suntik membuat gue parno. Terakhir disuntik mungkin sekitar pada saat SD. Makanya pas ke rumah sakit pertama kali dokternya bilang gue perlu diinfus yang artinya itu gue bertemu dengan jarum suntik. Jadilah gue bertemu kembali dengan jarum suntik. Di rumah sakit kedua ini total gue kena suntikan itu empat kali. Pertama pada saat ke rumah sakit yang diinfus itu. Kedua cek darah di puskesmas. Ketiga dan keempat di IGD rumah sakit.

Pada saat di IGD gue enggak langsung dapat kamar inap. Sekitar pukul dua siang sampai lima sore gue hanya duduk di kursi roda dan belum dikasih tindakan apapun, karena ruangan yang penuh. Sekitar pukul enam sore gue baru ditangani dokter. Dan gue harus disuntik lagi untuk diinfus otomatis gue bertemu dengan jarum suntik lagi. Dokter yang menangani gue itu masih muda kayanya dokter koas. Aseli gantengggggg bangetttt hahaha. Pada saat ditusuk jarum gue teriak sambil liat muka ganteng dokternya hahaha. Tapi pas itu dia pakai masker sih, gue nebak aja kalau dia ganteng tapi emang udah keliatan ganteng walaupun pakai masker. Sampai selesai gue diinfus gue belum mendapatkan kamar dikarenakan penuh akhirnya gue masih di IGD.

Selama di IGD gue melihat banyak sekali orang-orang yang memiliki penyakit yang biasanya gue tau sakitnya hanya sekedar omongan enggak pernah lihat langsung. Contohnya samping sebelah kiri gue, dia itu bapak-bapak yang sekujur kakinya itu penuh dengan seperti koreng dan jari kakinya bengkak. Emak gue bilangnya itu sakit gula. Aseli gue liatnya sih takut. Dan si bapak ini kasian karena enggak ada wali atau keluarganya sama sekali, ketika ditanya si bapak bilang dia ke rumah sakit naik grab. Pihak keluarganya udah dihubungin tapi nomernya tidak aktif. Kemudian ada lagi di depan sebrang kiri ada kakek-kakek yang kurus banget bener-bener kurus. Gue enggak tau dia sakit apa tapi yang bikin gue sedih dia dibentak-bentak sama keluarganya karena si kakek ini berbicara tapi suaranya parau dan tidak jelas. Pokoknya buanyak banget orang berlalu lalang selama gue di IGD. Bahkan justru dini hari itu banyak sekali pasien yang baru masuk. Oiyak yang dokter ganteng itu pas dini hari dia lepas masker dan betul tebakan gue kalo dia beneran gantengggg banget dong hahahaha. Pas dia buka masker itu lagi periksa kuping gue, enggak tau dah gunanya buat apa. Aseli sih masih ngarep bisa ketemu lagi sih gue tapi jangan di IGD. Doain gaes gue bisa ketemu dokter ganteng ini di tempat lain.

Lumayan cukup lama gue di IGD, akhirnya pas tanggal 15 januari hari selasa pagi jam 6 gue baru dapat kamar inap di lt 4 flamboyan. Pada saat sampai di kamar itu ada tiga kasur tapi hanya terisi dua orang termasuk gue. Samping sebelah kanan gue itu nenek-nenek sakitnya kompilasi ada gula, jantung, dan kolesterol. Sekitar pukul tujuh gue harus diambil darah lagi gaes. Artinya gue harus disuntik lagi L. Aseli gue udah pasrah aja dah sepertinya bertemu suntikan selama di rumah sakit sudah suatu kewajiban kayanya. Setelah itu gue dikasih sarapan yang isinya sih enak ada nasi, ayam, dan sayur tapi rasanya anyep alias enggak ada rasanya. Enggak ada asin-asinnya pisan euy. Tapi demi kesembuhan gue paksa makan walaupun enggak pernah abis karena setiap gue makan sesuatu itu mual terus enggak nafsu sama sekali.

Selama dirawat di rumah sakit kegiatan gue pasti setiap pagi sebelum subuh ambil darah. Lengan tangan gue kiri kanan sudah penuh tusukan suntikan. Sekitar jam 6 sarapan bakal datang. Paling rempong adalah ketika mau ke kamar mandi. Itu gue selalu membawa infusan setiap ke kamar mandi. Rempong banget deh pokoknya maklum ini pertama kali gue dirawat. Visit dokter itu biasanya selalu jam empat. Nama dokter yang nangani gue itu dokter teddy. Dokter teddy ini mirip banget sama dosen gue namanya pak bros persis mirip tapi gue enggak berani nanya.

Alhamdulillah juga banyak yang jengukin gue, mulai dari tetangga maupun temen-temen deket gue. Walaupun gue enggak mengabarkan ke siapapun kalau gue dirawat. Gue hanya mengabarkan temen sekelompok matkul sppm kalau gue dirawat jadi gue enggak bisa membantu mereka untuk mengerjakan tugas. Sama si sipa waktu itu whatsapp nanya kabar terus gue bilang lagi dirawat. Dari sipa ini baru beritanya menyebar.

Lima hari gue dirawat di rumah sakit. Alhamdulillah tanggal 18 januari 2019 gue diijinkan untuk pulang. Walaupun tetap harus control dan pola makan gue harus dijaga. Hal yang gue lakuin ketika pulang adalah MANDI. Lima hari enggak mandi coyyy walaupun pakain ganti tapi tetap saja lengket. Jadi sampai rumah gue langsung mandi dan meminta dibelikan ayam bakar. Minta dibeliin ayam bakar ini bisa dibilang balas dendam karena selama lima hari makan makanan yang tidak adar rasanya. Tapi yang nyebelinnya makan ayam bakar kali ini gue dilarang pakai sambel. Mana enak yekan ayam bakar enggak pakai sambel tapi gue tetap dilarang karena emang dilarang dulu untuk memakan sambel dan mie. Padahal itu adalah makanan favorit gue tapi eyke bisa apa L.

Dan sekarang Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin gue udah sehat walaupun belum bisa terlalu cape dan masih harus menghindari makanan yang tidaj bergizi (read : mie, seblak, baso, sambel). Makanan gue sekarang sehat banget dah sampai-sampai berat badan gue naikkkk L huh. Doain gaes berat badan gue bisa turun.

Mungkin itu cerita pengalaman pertama gue dirawat di rumah sakit. Untuk teman-teman yang lain jaga kesehatan gaes. Apalagi sekarang lagi musim hujan dan banyak yang terkena sakit DBD. Aseli ternyata sehat itu nikmat banget. Ketika lu udah sakit itu enggak enak banget gaes walaupun ketika sakit dosa-dosa kita digugurkan tapi tetap enakan sehat. Ketika kalian sehat banyak kegiatan positif yang bisa kalian lakukan dan harus dijaga banget pola makannya yaaa. Gue ini pecinta pedes banget tapi setelah kejadia ini untuk makan pedes gue mikir-mikir lagi. Emang sih ketika makan pedes diri kita kuat-kuat aja tapi kan enggak tau lambung kita didalam kaya gimana.

JAGA KESEHATAN YA GAES!!!!!!!

Selalu bersyukur sama Allah ketika selalu diberikan nikmat sehat J

Jakarta, 30 Januari 2019 – Salmah


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW NOVEL Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok

REVIEW NOVEL Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok ... Judul               : Kita Akan Tetap di Jalan Ini Seperti Kemarin, Hari Ini, dan Esok Penulis             : Muhammad Lili Nur Aulia Hal                  : 253 Halaman Penerbit           : Ihsanmedia.com             Atas dasar karunia Allah, lalu kebersamaan ini pun kita mulai karena Allah dan untuk Allah. Tidak ada yang lebih mulia daripada menyadari bahwa kebersamaan ini adalah murni karena karunia dan hidayah Allah. Tak ada yang lebih agung daripada menyadari bahwa kita memulai perjalanan ini betul-betul karena Allah dan bertujuan untuk menggapai ridha Allah.    ...

REVIEW NOVEL : Cinta di Ujung Sajadah

Judul : Cinta di Ujung Sajadah Penulis : Asma Nadia Hal : 291 halaman Penerbit : Republika "Ketika semua harapan menemui jalan buntu. Cinta berjuang. Mencari kekuatan dalam sujud-sujud panjang. Menelusuri jejak surga yang dirindukan hingga tuntas saat senja di madinah" "Berduan dengan cewek itu engga nyunnah. Jelek jelek dia kan menyandang nama Muhammad" (Hal 91) "Apapun kata orang, ibumu tetap ibu, sosok yang lebih dari berhak untuk mendapakan bakti dan kasih sayang anaknya, juga perhatianmu" (hal 190) "Ketika harapan begitu tipis. Ketika fisik begitu lelah. Ketika sebagai hamba, merasa tak berdaya. Ketika sekeliling begitu gelap dan tanpa cahaya. Ketika itu hanya Allah yang bisa memberi harapan" (hal 242) "Seburuk apapun yang kamu lakukan, Nak.... ingatlah kamu menyandang nama Muhammad" (hal 268) Gue kasih lima bintang🌟🌟🌟🌟🌟 Sukak banget sama novel ini. Emang novel asma nadia itu selalu memiliki sihir tersen...

Mereflesikan Diri

Sesekali ketika berkumpul tidak melulu harus membahas hal yang menguras tenaga. Terkadang kita butuh berkumpul hanya untuk merefresh otak, mengumpulkan energi positif dan menyatukan tujuan yang telah kita sematkan. Itu akan mempengaruhi terhadap apa yang kedepannya akan kita jalankan. Membahas hal yang tidak penting sekalipun itu dapat sejenak menghilangkan kejenuhan rutinitas yang kita jalankan. Atas dasar yang sama yaitu kepenatan dan kelelahan rutinitas yang dijalankan, kita berusaha untuk saling menghibur satu sama lain. Saling menguatkan dengan cara melemparkan guyonan sederhana yang kadang hal receh sekalipun mampu membut diri ini terhibur. Efeknya apa setelah hal itu? Kita memiliki energi full kembali dan kita merasa tidak sendirian karena kita memiliki teman-teman yang sama juga merasakan apa yang kita rasakan. Kemudian menjadi fokus dengan tujuan awal kita. Sesekali patut dicoba. Jakarta 10 November 2018 | Salmah